Anak Milenial Tidak Bisa Beli Rumah?

Berdasarkan riset Rumah123.com tahun 2017 memprediksi Generasi milenial dalam lima tahun kedepan (2021) tidak mampu beli rumah? Ketidakmampuan ini karena kombinasi daya beli yang menurun dan harga rumah yang naik terlalu tinggi. Ignatius Untung, Country Manager rumah123.com memamparkan asumsi yang dipakai dalam riset ini : asumsi kenaikan rata-rata penghasilan 10% per tahun tanpa ada promosi dan kenaikan harga properti harga tanah dan rumah, di angka 20% per tahun.

Problemnya kenapa generasi milenial tidak bisa memiliki rumah. Pertama, Milenial tidak pernah diedukasi untuk membeli / berinvestasi rumah. Dulu kita mengenal istilah sandang, pangan, papan. Papan (rumah) ini belum teredukasi dengan baik sebagai suatu kebutuhan juga.  Kedua, masih banyak pegembang berfokus kepada investor. Akhirnya, properti naik karena investor banyak yang masuk. “Misal pada tahun 2015 properti market mengalami slowing down, namun properti dengan harga Rp 300 juta-an masih ngebut, yang beli orang-orang market atas” pungkas Ignatius Untung

Generasi milenial ini merupakan generasi kelahiran 1982-1983  keatas atau pada tahun 2018 ini berusia 35-an tahun. Generasi milenial terbesar umumnya baru lulus kuliah, usia 21-22 tahun memang lebih suka untuk menikmati hidup dengan membeli gadget misalnya.

Bedasarkan data lain dari  rumah123.com saat ini di Jakarta Generasi milenial di Jakarta hanya 17% yang mampu membeli rumah. Dikutip dalam laman youtube Kikautalk , Financial PlannerKaukabus Syarqiyah CFP  menanggapi data rumah123.com tersebut. “Beberapa penyebab kemungkinan anak milenial belum mampu membeli rumah. Pertama, Generasi milenial masih fresh grad (baru lulus) dan masih bekerja berdasaarkan passion, secara income mungkin terbatas dan secara kemampuan masih sedikit”

Kedua, Konsumerisme yang tinggi dengan banyaknya Mall, tempat hangout dan lainnya.  Mau tidak mau mempengaruhi Gaya hidup yang konsumtif , kadang-kadang kita sudah berusaha menahan namun peer group atau  teman kita ngajak ini-itu. Akhirnya seseorang gabisa saving atau ngumpulin uang.

Ketiga. Bagaimanapun kebutuhan hidup itu besar, dari tahun ketahun kebutuhan pokok naik terus, biaya sekolah pun naik dan perlu dana cukup besar. Sehingga memerlukan beban tersendiri bagi kondisi keuangan generasi milenial. Kikau menambahkan ada dua waktu terbaik investasi. “Pertama, berinvestasi 20 tahun yang lalu atau kedua, berinvestasi saat ini apapun investasi yang teman-teman pilih”. Sehingga untuk kebutuhan berivestasi rumah ini perlu di mulai saat ini juga.

Lalu bagaimana solusinya?

Tips dari Ignatius Untung, rumah 123.com  bagi generasi milenial perlu menyusun prioritas, “caranya apa yang kita tunda dapat kita beli nantinya. Apa yang kita tunda gak bisa beli itu harus didepan.”  Anak milenial umumnya menyukai tiga hal ini Liburan, gadget, dan otomotif. Tiga hal itu ditunda saat ini masih dapat terbeli nanti atau bahkan lebih bagus dan lebih murah nanti. Sementara harga properti semakin hari semakin naik harganya, jadi prioritaskan ke properti dulu.

Bagi generasi milenial yang sudah mempersiapkan kebutuhan untuk membeli hunian properti. Jangan terlalu khawatir, beberapa pengembang properti masih ada yang menawarkan unit rumah dengan harga Rp 300 jt-an. Salah satunya Lentras Properti (@lentras.properti). Pengembang di wilayah Depok dan Bogor ini menawarkan hunian di Cilodong, Depok misalnya. Rumah dengan tipe 36 luas tanah 60 dibandrol harga promo mulai Rp 350 jutaan. Kata siapa anak milenial gak bisa beli rumah ?

Penulis : Aria/ IG : @ariawiyana